T.H.A.N.K.S
Gue rasa konsep itu masuk akal. Apalagi buat sebagian orang yang doyan bikin 'target' tapi gak ada hasrat untuk meraihnya. Sudah banyak teori-teori yang intinya memotivasi orang untuk mencapai target yang dibuatnya. Tetapi, ketika akan meraihnya mulai timbul perasaan-perasaan negatif yang menghambat proses pencapaian tersebut.
Pertanyaannya, dari mana perasaan-perasaan negatif itu berasal? Jawabannya ya dari diri orang itu sendiri.
Salah satu penyebabnya berawal dari proses 'berpikir'. Sudah kodrat manusia untuk berpikir (kecuali bagi sebagian orang yang 'terpaksa' tidak berpikir - a.k.a gila). Berpikir sama sekali tidak salah. Justru, manusia memang harus berpikir. Kalau tidak ya seperti orang yang gue sebutin tadi. Cuma, permasalahannya ada pada kebiasaan berpikir yang terlalu lama.
Ketika kita berpikir terlalu lama, otak dan hati mulai dihinggapi perasaan-perasaan seperti:
Selanjutnya yang terjadi adalah penundaan atau malas. Dan, ketika kita mulai mencoba dari awal lagi, perasaan itu akan tetap muncul sampai akhirnya kita berani mengambil langkah atau lebih ekstrim kepepet. Kalau sudah begini, dan ternyata hasil yang kita dapat bagus. Perasaan nyesel bakal datang, kenapa gak dari dulu ya? Sering kali kekhawatiran atau kecemasan kita pada sesuatu yang akan terjadi di masa yang akan datang belum tentu terjadi. Kesimpulannya, berpikir sebelum mengerjakan sesuatu adalah suatu keharusan. Tapi, jangan terlalu lama. Cukup pikirkan beberapa poin saja:
Jika jawabanya adalah Iya, maka kerjakan. Tapi jika salah satunya Tidak, maka coba kerjakan hal lain yang sama pentingnya. Soal nanti apakah hasilnya tidak bagus. Yaaa.. bilang sama diri lu sendiri: sh*ts happen, but the show must go on. :-) As Qur'an said: Kemudahan datang setelah kesulitan. Mungkin bukan sekarang waktunya.